bil-irtijāl (بالارتجال)

📅 Dec 27, 2024


Selamat malam, Rahh. Apakah rembulan masih bersinar untukmu malam ini?

Mungkin kali ini suratku tidak sepanjang yang sebelum-sebelumnya, tapi yah, aku tetap ingin berkabar satu dua hal padamu.

Kau tahu rasanya saat kau tidak lagi menyukai kegiatan yang dulu sangat kau sukai? That's sucks.

Kegiatan motoran malam-malam sambil mendengar musik tidak seseru dulu. Entah itu karena aku tak menyukai musiknya lagi, entah itu karena jalannya, entah itu karena suasananya, atau entah itu karena apa. Kegiatan yang begitu kusukai dulunya, sekarang rasanya tidak menyenangkan lagi.

Lalu playlist yang sering kudengar tidak lagi menyimpan atmosfer yang sama lagi. Tidak ada nostalgia lagi. Mau berapa kali pun aku memutarnya, tetap terasa hambar. Apa itu karena aku terlalu sering mendengarnya, hingga suasana yang dikandungnya mulai pudar? Vibenya hilang. Sedih.

Musik selalu mengandung sesuatu. Semakin sering kau mendengarnya di tempat dan waktu tertentu, maka itu akan terukir di ingatanmu. Lalu, saat kau mendengarkannya di tempat dan waktu lain maka suasana yang terkandung di dalamnya akan keluar.

Bagaimana aku tidak terus memutarnya? Aku selalu ingin kembali ke masa-masa itu. Selalu.

Ke masa-masa duduk sore hari di pinggir pantai dengan pisang goreng dan teh manis. Atau bermain bola di pasir hingga matahari terbenam. Atau sekedar jalan kaki menyusuri pantai.

Suasananya... kalau diibaratkan, ya, kurasa warnanya kuning.

Tapi kau tahu, Rahh, manusia selalu berkembang. Mereka berubah setiap waktu—tidak pernah benar-benar konstan. Hal-hal yang disukainya pun terus berganti. Ketika sesuatu mulai terasa membosankan, ada gantinya hal baru yang lebih baik, selama mereka terus bergerak maju.

Kini, setiap sore, aku punya cara lain untuk menenangkan diri—berlari. Sebenarnya, aku sudah rajin melakukannya sejak dulu, tapi baru sekarang aku benar-benar jatuh hati pada kegiatan ini. Kau tahu alasanku berlari setiap sore? Itu membantuku menjernihkan pikiran.

Lalu, selepas beberapa putaran mengelilingi kampus, biasanya aku akan teringat untuk berkabar denganmu, maka surat-suratku belakangan ini, niscaya tidak kutulis di laptop sambil duduk di kursi dengan secangkir kopi di atas meja kamarku. Tidak. Semua itu kutulis di taman, di atas motor, di trotoar, di bawah rembulan, di samping danau, di atas kereta. Di mana pun, kapan pun, ketika sesuatu melintas di pikiranku dan aku ingin berbagi denganmu.

Maka aku jamin itu semua adalah kata kata paling jujur, tak direncanakan, secara spontan keluar begitu saja, itu semua "bil-irtijāl" (بالارتجال).

Kau tahu, aku jarang sekali memposting sesuatu di media sosialku, entah di story atau di postingan lainnya. Padahal, aku sering pergi ke tempat-tempat atau melakukan hal-hal yang mungkin kau suka.

Tapi, kalau aku sampai memposting kegiatanku, itu berarti, dari hatiku yang paling dalam ada maksud ingin mendapat atensi darimu. Aku selalu senang jika kau melihat postinganku lalu menyukainya. Tapi jika begitu, tidak lain, aku seperti terikat dengan hal itu, terikat akan atensimu. Maka reaksiku akan bergantung pada responmu, dan pada akhirnya, aku memiliki harapan padamu lagi. Dan aku tidak ingin seperti itu. Bukan berarti aku tak ingin berhubungan denganmu. Bukan juga berarti aku berhenti mengagumimu. Hanya, aku ingin bergantung pada hal-hal seperti itu lagi.

Jika aku tidak bergantung dengannya lagi, maka segala yang aku lakukan sekarang murni dari kemauanku sendiri, surat ini, lukisan ini, dan semuanya, dari —dan hanya datang dari—kemauanku sendiri.

Akan tiba waktunya sampai kita bertemu lagi. Aku akan terus memperbaiki diri—diam-diam memperbaiki diri—pengetahuanku, pola pikirku, ucapanku, dan perbuatanku. Tunggu saja. Entah apa pun akhirnya nanti, denganmu—dan aku sungguh berharap itu denganmu—atau yang lain.

….

Kau tahu, aku tidak pernah menghubungimu. Bukan berarti aku tidak pernah kesepian, tapi setiap kali aku merasakan itu, pilihan pertama yang ada di otakku adalah ibu. Aku tinggal meneleponnya saja. Kadang jika aku sudah merasa terlalu sedih, entah ada apa, dia selalu meneleponku duluan. Menanyakan kabarku, menanyakan ibadahku.

Maka apabila bergetar hatiku, bergetar pula hatinya. Karena tidak lain, hatiku adalah bagian dari hatinya. Frekuensi kita sama.

Mungkin ini yang dimaksud: jika kamu senang, maka kamu akan menelepon orang yang engkau cintai, dan jika kamu sedih, maka kamu akan menelepon orang yang mencintaimu. Maka sekarang, cukuplah ibuku untukku.


ngl button