Kijang Kencana

đź“… Nov 28, 2025

Kijang Kencana thumbnail


Selamat malam, Sinta. Barangkali rembulan masih bersinar untukmu malam ini.

Kadang aku mikir, kalau hidup ini kayak game, kenapa ya nggak ada tombol save? Maksudku, kalaupun hidup mau absurd, minimal kasih kita checkpoint buat balik ketika kita salah ngomong, salah manggil nama orang, atau salah milih teman.

Tapi ya enggak. Hidup malah kayak surat-suratan ala-ala ini, Sinta—terus jalan, nggak jelas mau ngomong apa, enggak tahu ujungnya, tapi kamu tetap lanjutin bacanya karena, ya, mau gimana lagi.

Dirimu sudah terlanjur duduk, terlanjur baca, terlanjur pengen ngerti. Padahal nggak semua hal harus dimengerti, Sinta. Kadang cukup diliatin aja dari jauh, kayak bintang dan rembulan malam ini… atau hal-hal sedih yang pernah lewat… atau mungkin trauma-trauma yang diam-diam masih nempel.

Aku nulis ini bukan buat didengerin. Cuma siapa tahu kamu baca, dan entah kenapa ngerasa, "eh, ini gue banget." Padahal mungkin bukan. Ini aku. Tapi kalau kamu mau nebeng di rasa yang sama, hayuk. Dunia terlalu sempit buat ngerasa sendirian di kepala sendiri, Sinta.

Dan kalau kamu masih penasaran sama semua bla bla bla-nya, ya mungkin ini dia:

Bla yang pertama adalah semua hal yang nggak pernah sempat kamu ucapin.

Bla satunya adalah semua yang pengen kamu denger.

Dan bla yang terakhir… adalah bahwa sejauh apa pun kita, kamu tetap jadi bagian dari kepala seorang kutubuku yang hobinya ngoding ini.

Seperti biasa Sinta, muqaddimah ala-ala yang selalu spontan aku tulis di setiap suratku ini aku harap membuatmu tersenyum..

Ngomong-ngomong Sinta, sudah lama aku tidak mengirimkanmu surat yaahh… maaf yahh, aku kira kamu lebih suka kalau aku ngomong langsung. Aku tidak ingin menulis surat yang pernah aku bacakan Sinta, aku ingin surat yang ku tulis ini selalu spontan, supaya tetap jujur.

Banyak hal yang terjadi semenjak surat terakhirku Sinta. Ada hari-hari yang lewat begitu cepat, ada juga yang rasanya terlalu panjang sampai aku bingung harus naro fokusku di mana. Kadang aku ngerasa baik-baik aja, kadang aku ngerasa kayak 'ahh yasudah lahh, mau bagaimana lagi'. Dan anehnya, di antara semua itu, ada satu hal yang nggak berubah, Sinta, dan kamu pasti tahu itu…

Aku sempat kepikiran, apa kamu juga ngerasain waktunya tidak cukup untuk memenuhi semua tuntutan itu ya? Atau jangan-jangan cuma aku yang terlalu sering mikir? Ya gapapa juga sih.

Tapi Sinta saat dengar semua ceritamu setiap malam, yaah memang kita tidak jauh beda yaahh hahaha. Tentang kamu yang bikin aku tersenyum sendiri, tentang kekhawatiran-kekhawatiran kecil yang suka datang malam-malam, tentang hal-hal sederhana yang tiba-tiba ngingetin aku ke kamu. Bahkan kadang aku cuma pengen bilang, "Sinta, hari ini aku baik," atau "Sinta, hari ini agak berat," biar kamu tahu aku masih ada di sini, masih jadi aku yang kamu kangen di surat-surat sebelumnya. Dan surat-surat yang akan datang.

Dan kalaupun dunia ini nggak kasih kita tombol save, aku masih bersyukur satu hal: kita selalu ada di arch yang sama.

Sinta, pernah enggak kamu merasa…bahwa beberapa perasaan memang tidak diciptakan untuk diumumkan terlalu sering?

Ada hal-hal yang lebih indah kalau tetap jadi rahasia kecil.

Kamu tahu Sinta, setiap kali ingin berpisah lagi denganmu setelah pertemuan kita yang hanya sesekali saja itu, entah kenapa agak terasa sedih ya?

Walaupun aku selalu punya saja jalan untuk menemuimu kembali. Rencana itu sebenarnya menyangkut niat yang kelihatan jelas sekali mengikuti perangai romantisme cengeng ini.

Sebelum surat singkat ini ku tutup Sinta, ada yang ingin ku utarakan padamu..

"Separuh dari keinginanmu telah dituruti nona.. lalu senanglah hatimu dan senang juga hatiku.. akan datang hari saat keinginan-keinginan mu yang lain akan terpenuhi satu persatu"

Anyway.. Good Night kasih

—Rama


ngl button