Langit Bintang

đź“… Dec 26, 2025

Langit Bintang thumbnail


Selamat malam, Sinta. Barangkali cahaya rembulan masih jatuh padamu— aku kirimkan lagi surat padamu malam ini, untuk menenangkan hati yang gelisah itu…

Sudah berapa purnama lewat tanpa secarik kertas pun yang datang padamu. Pak pos Rahwana sudah ingin berganti pekerjaan, Sinta, karena dia kira aku tak perlu lagi media surat untuk menyampaikan rindu. Padahal, Sinta... kamu selalu mendapatkan surat dariku, setiap malam. Walaupun bentuknya tak selalu kertas ini, ia kadang menjelma puisi singkat yang kukirimkan saat pulang kerja, kadang menjelma saat-saat aku menerangkan hal yang membingungkanmu, atau kadang menjelma saat-saat aku menemanimu tidur dalam kesedihan itu.

Malam ini tak mendung lagi, Sinta. Hujan deras tadi sudah berlalu, dan bintang-bintang mulai bermunculan. Walaupun bulannya tidak kelihatan… andai kamu melihat langitnya juga.

Aduh, kurasa sudah terlampau malam untuk dongeng ini. Aku sendiri hampir terlelap sambil menuturkannya.

Kamu juga tidurlah, Sinta...

…Sebelum memejamkan mata bersama langit berbintang, yang semoga menggambarkan senyumku, cukuplah kamu tahu, bahwa sekalipun dunia menawarkan seluruh putri Ayodhya, Rama tak pernah sekalipun berangan-angan tentang siapapun selain dewinya yang menemaninya dalam kereta kencana berkeliling kota, tempat di mana Rama pertama kali mengucapkan janjinya padamu.

Tidurlah, Sinta.

…Sebelum kau memejamkan mata bersama langit berbintang, yang semoga juga menampung tangisku, cukuplah kamu tahu bahwa bahkan disaat bersedih aku selalu mendahulukanmu, sinta. Maka beritahu aku, O rembulan di titik mana cahaya itu tidak sampai padamu.

Anyway, selamat malam...

—rama


ngl button